Viral Cerita Pria Kenang Chat Terakhir Istri Sebelum Meninggal Karena Covid-19, Minta Suami Ikhlas


TRIBUNSTYLE.COM - Curhat seorang pria bernama Muhammad Ihsan Harahap yang ditulis di akun Twitternya belakangan ini viral.


Ihsan mengenang detik-detik terakhir istrinya, Amirah, sebelum dinyatakan meninggal karena terpapar Covid-19.


Khalayak dibuat sedih dengan kisah pilu yang dicatatkan Ihsan pasca Amirah tiada.


"Bismillah, ini hari kedua sejak istriku dimakamkan di Pemakaman Khusus Covid di Macanda, Gowa, Sulawesi Selatan. Setelah pemakaman di malam itu, aku kembali lagi ke rumah isolasi mandiri. Seorang diri," tulis Ihsan mengawali tweet-nya, Jumat (26/9/2020).


Dikutip lebih lanjut oleh TribunnewsBogor.com, Ihsan mengenang kepergian Amirah, sang istri tercinta.


Didiagnosa positif Covid-19, nyawa Amirah tak bisa tertolong.


Amirah pun meninggalkan Ihsan tepat pada tanggal 23 September 2020.


Tak hanya Ihsan, Amirah juga pergi meninggalkan putri tunggalnya, Aruna.


Mengenang kepergian Amirah, Ihsan mengungkap bahwa sang istri masih sempat memberikan kabar kepadanya melalui chat.


Via WhatsApp, Amirah masih sempat menghubungi Ihsan beberapa jam sebelum meninggal dunia.


Dalam chat tersebut, Amirah meminta agar sang suami, Ihsan senantiasa mendoakannya.


Rupanya, chat tersebut adalah pesan dan komunikasi terakhir Ihsan dengan Amirah.


"Beberapa jam menjelang kepergianmu, kamu masih sempat menghubungiku, meminta untuk mengikhlaskan keadaanmu yang telah seminggu terbaring. Aku iyakan, aku ikhlaskan, agar hatimu damai. Hari itu, tak pernah kusangka, perjanjianmu dengan Allah SWT sudah sampai di penghujungnya," cuit Ihsan.


Telah mengikhlaskan kepergian Amirah, Ihsan pun berdoa untuk mendiang sang istri.


"Kini engkau sedang menuju sebuah kampung, di mana aku dan Aruna serta semua manusia akan tiba waktunya juga untuk turut berangkat ke sana. Kampung itu adalah kampung Akhirat. Allah ternyata sudah sangat rindu untuk memelukmu, Amirah," pungkas Ihsan.


Kronologi Amirah Positif Covid-19 hingga Wafat


Melalui laman Twitter-nya, Ihsan mengurai detik-detik sebelum sang istri meninggal dunia akibat Covid-19.


Pada 18 September 2020, saat Amirah dirawat di rumah sakit, istri Ihsan menerima kabar buruk mengenai hasil tes swab.


Berdasarkan hasil tes, Amirah dinyatakan positif Covid-19.


Alhasil, Amirah pun harus dirawat secara intensif di rumah sakit khusus Covid-19.


Berikut adalah cerita lengkap dari Ihsan :


Tepat 7 hari lalu, Jumat (18/09/2020), saat masih di-opname di RS non-covid, kamu ingin menonton adegan ketika Zainuddin dan Hayati berbincang di akhir film, di mana Hayati membacakan surat perpisahannya. Seolah itu pesanmu sendiri kepadaku bahwa sebentar lagi kita akan berpisah.


Kita selesai menonton film itu pada pukul 10.00 pagi. Tidak lebih dari 15 menit kemudian, dokter menelfonku, aku terisak. Aku sengaja mengambil jarak darimu. Dokter mengatakan hasil swab kemarin positif. Di sanalah Allah memberikan tanda kepergianmu.


Siang hari menjelang sore, kamu dipindahkan ke RS Sayang Rakyat, 1 dari 3 RS di Sulsel yg khusus menangani covid. Ingatkah kamu, kita berangkat pukul 15.10? Itulah saat terakhir kali aku mendampingimu di dalam ambulans. Sesampai di RS, kita berpisah. Aku diminta isolasi mandiri.


Esoknya, Sabtu (19/09/2020), dokter mengabariku bahwa kamu harus dipindahkan ke ICU. Memang kadar trombosit, leukosit, dll, dalam darahmu terus turun semenjak diopname di RS sebelumnya. Tubuhmu berjuang melawan virus itu. Engkau selalu mengabariku meski sakitmu semakin parah.


Ahad, 20 September 2020, tepat di ulang tahunku yang ke-28, kamu mengucapkan selamat untukku. Meski hatiku hancur lebur. Kamu, Aruna, aku, tinggal di tiga tempat berbeda. Kusemangati kamu untuk terus berjuang hingga sembuh.


Namun kondisimu terus menurun. Senin berlalu, selasa berlalu. Rabu datang, dan kamu telfon aku baik-baik, meminta izin untuk dipasangkan ventilator karena saturasi oksigen di tubuhnya tinggal 74%. Kubaca di internet, saturasi untuk tetap hidup minimal 95%.


Dokter menelfonku bahwa setelah dipasangi ventilator, saturasinya naik ke 90%. Beberapa menit kemudian, dokter memberitahu lagi, saturasinya turun sedikit demi sedikit. Aku diminta berdoa.


Tidak berapa lama, seorang perempuan menelfonku, dia perawat di ruangan ICU. "Ibu sudah tidak ada, pak". Di situlah duniaku tiba-tiba gelap, langit runtuh, tanah yang kupijak amblas ditelan bumi.


Berpulang ke pangkuan Tuhan, Amirah pun dimakamkan sekira pukul 22.30 WITA di Pemakaman Pemprov Sulsel khusus Covid di Macanda, Gowa, Rabu (23/9/2020).



Selamat jalan Amirah. Engkau mati satu kali, namun hidup selamanya.


Dari aku yang selalu bangga pernah hidup denganmu. Muhammad Ihsan Harahap Daeng Rate.


Gowa, Jumat (25/09/2020)


Dalam ingatan istriku,

Amirah Lahaya

(Selasa, 21 Februari 1989 - Rabu, 23 September 2020)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel