Cerita Slamet Berhasil Daftar Haji Bersama Ibu, Uang dari Hasil Ngamen dan Ditabung Selama 10 Tahun



KOMPAS.com - Pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan impian bagi setiap orang beragama Islam. Salah satunya adalah Slamet Effendy (30), warga Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, namun cita-citanya untuk dapat pergi haji bersama orangtuanya begitu besar.

Demi mewujudkan impiannya itu, pria yang berprofesi sebagai pengamen jalanan itu rela menyisihkan uang yang didapat untuk ditabung. Tak banyak uang yang disisihkan, dalam sehari, Slamet hanya bisa menabung antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000.

Namun, berkat kesabaran yang dilakukan itu kini uang yang terkumpul sudah bisa digunakan untuk mendaftarkan haji bersama ibunya. "Saya nabung 10 tahun, pak. Tiap hari nabung ke ibu Rp 20.000-25.000. Tabungannya disimpan ibu. Kalau sudah banyak, uang recehan ditukar ke toko. Oleh ibu disimpan di tas kresek dan disimpan di rumah sampai banyak," kata Slamet, dengan bahasa Madura, saat dihubungi Kompas.com, melalui ponsel milik tetangganya, Yuyun Wahyuni, Sabtu (5/9/2020). Slamet mendaftar haji pada Kamis (3/9/2020) dengan biaya sebesar Rp 25 juta. Sedangkan ibunya, sudah didaftarkan terlebih dulu pada 2018 lalu. Ia mengaku bersyukur karena impiannya sejak kecil akhirnya dapat terwujud dengan ikhtiar yang dilakukan. "Saya ingin berangkat haji sama ibu. Semoga pihak terkait bisa bantu saya," harap Slamet.

Ngamen dari pagi sampai malam Slamet selama ini diketahui hanya tinggal berdua dengan ibu kandungnya. Karena tidak ada biaya dan ditinggal ayahnya meninggal dunia, sejak Sekolah Dasar ia sudah putus sekolah. Meski kondisi ekonomi keluarganya sangat terbatas, ia tetap berusaha untuk membantu ibunya dalam mencari nafkah. Salah satunya dengan menjadi pengamen. Setiap hari, ia pergi mengamen di pintu tol keluar Leces Pasuruan-Probolinggo. Ia berangkat dari pagi hingga malam hari. Meski hasil uang yang didapat tidak menentu, namun sebisa mungkin setiap hari ia sisihkan sebagian untuk ditabung.

Sedangkan sisanya jika masih ada digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Menurut Yuyun tetangganya, Slamet pergi mengamen dari pagi hingga malam hari. "Dia ngamen dari pagi sampai jam 10 malam, pulang cuma makan lalu berangkat ngamen lagi," ujar Yuyun via telepon. Saat mendaftar haji itu, Yuyun juga yang mengantarkan Slamet di Kantor Kemenag. Pasalnya, Slamet tidak bisa baca dan menulis. Yuyun mengaku kagum dengan kegigihan Slamet. Karena dengan keterbatasan yang dimiliki, akhirnya ia berhasil mewujudkan impiannya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel